SEMARANG, Mediajateng.net – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah menyebut telah berhasil menyisir habis sebanyak lima ratus surat keterangan tidak mampu atau SKTM manipulatif di seluruh satuan pendidikan di tingkat wilayah Jawa Tengah.

Dengan fenomena maraknya SKTM manipulatif, seperti dikatakan oleh Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus Wilayah Surakarta, Jasman Indratmo, jelas sangat merugikan lembaga dinas pendidikan dan kebudayaan.

“Kuota siswa untuk tingkat menengah atas tercatat ada sekitar 113 ribu siswa, tahun lalu fenomena penggunaan SKTM hanya tercatat sebesar 11,8 persen saja, sehingga kuota siswa sebenarnya masih kurang. Akan tetapi tahun ini fenomena yang terjadi luar biasa.” demikian kata Jasman Indratmo, saat berdiskusi mengangkat tema Menyekolahkan Anak Bangsa, Senin (9/7) di Hotel Noormans Semarang.

Fenomena penggunaan SKTM secara manipulatif kali ini harus segera dicermati. Menurut Muh Zen Adv sebagai anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, para orangtua yang terbukti melakukan manipulasi harus diberi efek jera. Lembaga satuan pendidikan harus mengundang mereka para orangtua tersebut, agar proses verifikasi menjadi fair dan jujur, dan tidak terulang kembali.

“Penggunaan SKTM jelas ikut menghambat proses wajib belajar 12 tahun menjadi semakin berat, secara tidak langsung. Saat ini masih ada 24 % siswa yang berhenti sekolah di wilayah Jawa Tengah,” tegasnya.

Menambahkan hal ini, sosiolog dari Universitas Negeri Semarang, Prof Tri Marhaeni menilai perlu ada upaya lebih dari pemerintah maupun satuan pendidikan yang ada di Jawa Tengah untuk lebih kreatif. Salah satunya melalui upaya pengajaran yang harus sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.

“Hilangkan sekolahh favorit dan non favorit seperti yang berkembang saat ini. Sekolah harus sangat kreatif berkembang,” katanya menutup polemik tersebut