Hendi Terus Kurangi Wilayah Kumuh Semarang

0
331

SEMARANG, Mediajateng.net, – Pemkot Semarang terus melakukan penanggulangan wilayah kumuh. Salah satunya, di kawasan bersejarah seperti Kota Lama, Kampung Melayu, Pecinan, dan Arab. Menurut Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, revitalisasi di kawasan tersebut baru berjalan seperempat. Setelah itu akan dilanjutkan ke wilayah penataan lainnya.

“Salah satunya yang menjadi perhatian adalah kawasan Kampung Melayu, karena meliputi kawasan Kuningan dan Dadapsari yang masuk dalam kategori wilayah kumuh, mengacu pada SK Wali Kota tahun 2014,” lanjut pria yang juga akrab di sapa Hendi itu.

Seperti dalam melakukan revitalisasi kawasan Little Netherland, menurutnya Kampung Melayu yang saat ini kondisinya relatif kumuh mampu juga ditata ulang menjadi daya tarik wisata Kota Semarang. Pasalnya Kampung Melayu memiliki potensi wisata historis yang kuat, yaitu dengan adanya Masjid Layur yang dibangun tahun 1802, serta Masjid Sholeh Darat.

‘’Masjid Layur salah satu potensi yang saya optimis mampu menarik wisatawan dari luar kota untuk datang ke Kota Semarang,” yakin Hendi.

Hal tersebut disampaikannya saat memaparkan inovasi Pemerintah Kota Semarang dalam penanggulangan wilayah kumuh, pada Lomba Hari Habitat tingkat Provinsi Jawa Tengah di Hotel Patrajasa Semarang, Rabu (11/09).

Adapun Hendi sendiri telah menyiapkan sebuah desain rancangan guna menjadi acuan penataan kembali kawasan Kampung Melayu sebagai bagian dari kawasan sejarah Kota Lama Semarang.

Dalam paparannya, Wali Kota Semarang tersebut berencana melakukan sejumlah pembangunan infrasruktur fisik seperti membangun gerbang kawasan, hingga penambahan ruang terbuka hijau. Bahkan Hendi secara khusus juga akan menerapkan konsep pembangunan Water Front City dalam penataan bantaran Kali Semarang yang melintas di sepanjang Kampung Melayu dengan membangun Deck View.

Hendi pun berharap perluasan upaya revitalisasi Kota Lama Semarang mampu menjaga tren positif perkembangan Kota Semarang di bawah kepemimpinannya. Tren positif itu antara lain terkait pengentasan wilayah kumuh di Kota Semarang yang mampu diupayakan secara masif.

Sebagai gambaran pada tahun 2014 tercatat kawasan kumuh di Kota Semarang luasannya berkisar 416 Hektar yang tersebar di 62 kelurahan, luasan tersebut kemudian pada tahun 2018 berhasil ditekan menjadi 112 Hektar.

Menurut Hendi, tugas besar Pemerintah kota Semarang dalam penyelesaian wilayah kumuh tidak terlepas dari keberhasilan penanganan banjir dan rob, yang mana secara statistik pada tahun 2011 tercatat 41% wilayah Kota Semarang merupakan wilayah rawan banjir dan rob, dan kemudian melaluia sejumlah upaya pembenahan sistem drainase, pada tahun 2018 turun drastis menjadi 17,4%.

“Ini merupakan tren positif, namun yang lebih penting bagi kami ini supaya masyarakat kemudian nyaman, senang, sehat, bahagia, dan Insya Allah sejahtera,” tegas Hendi. (ot/mj)