Grobogan-mediajateng.net- Seharusnya truk engkel dipergunakan untuk memuat barang dan bukan untuk mengangkut orang.

Bahkan, dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti UU 22/2009 pasal 137 (4) disebutkan mobil barang dilarang digunakan untuk angkutan orang, kecuali rasio kendaraaan bermotor untuk angkutan orang, kondisi geografis, dan prasarana jalan di provinsi/kabupaten/kota belum memadai.

Jika ini dilanggar, maka ada efek negatif yang terjadi, seperti adanya kemungkinan besar terjadi kecelakaan.

Namun, belum hilang ingatan kita akan kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Trikora-Wolo, Penawangan saat sebuah truk engkel yang mengangkut puluhan orang terjungkal saat hendak membelokkan setir.

Belasan orang menjadi korban meninggal akibat insiden ini. Hingga Jumat (25/1/2019) masih ditemukan truk-truk engkel yang mengangkut orang dalam jumlah banyak.

Kepada Mediajateng.net, Senin (28/1) dijelaskan, dalam razia rutin yang digelar Satlantas Polres Grobogan, petugas menemukan dua unit truk yang mengangkut penumpang dengan jumlah 10-15 orang di Jalan Raya Purwodadi-Semarang. Tepatnya di Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi.

Mayoritas penumpangnya adalah buruh yang hendak bekerja di sawah. Alasan mereka beragam. Yakni sudah disediakan majikannya kendaraan untuk mengantar mereka ke tempat kerja.

“Ini sudah disediakan dari majikannya. Kita tinggal naik dan ikut sampai ke sawah untuk bekerja,” kata para penumpang.

Alasan tersebut dinilai tidak menguatkan. Kedua sopir truk tersebut akhirnya diberikan surat tilang karena telah melanggar peraturan perundangan yang berlaku. Hal tersebut dibenarkan Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa melalui Kanit Turjawali Iptu Joko Susilo.

“Benar, pagi tadi kami melakukan giat razia rutin yang dipusatkan di Jalan Raya Purwodadi-Semarang. Tepatnya di Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi. Dalam razia ini, kami menemukan dua unit truk engkel yang membawa sekitar 10 sampai 15 orang. Para penumpangnya ini rata-rata buruh panen padi. Karena itu, kami melakukan penindakan berupa tilang kepada para sopir,” jelas Iptu Joko Susilo, saat dikonfirmasi mediajateng.net.

Iptu Joko terus mengimbau kepada seluruh sopir truk engkel agar tidak memuat orang. Bahkan, ia meminta agar mereka mempergunakan truk engkel sebagaimana mestinya.

“Kami mengimbau kepada para sopir agar tidak memuat orang lagi, karena pada dasarnya truk adalah kendaraan pengangkut barang. Jika ini memang sangat penting, diharapkan menggunakan armada lain yang sesuai dengan peruntukkannya,” tutup Iptu Joko. (Ag-Mj)