DEMAK, Mediajateng.net – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, mengajak masyarakat Kota Wali untuk siaga bencana, menyusul cuaca ekstrim yang melanda wilayah Indonesia termasuk Demak dalam beberapa hari terakhir ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, M. Agus Nugroho Luhur Pambudi, menyatakan bahwa pada bulan Oktober hingga Maret, merupakan bulan siaga bencana.

Apalagi beberapa hari terakhir ini, intensitas hujan di Demak cukup tinggi.

” Gelombang laut juga tinggi, masyarakat harus waspada. Para nelayan jangan dulu melaut,” kata Agus, Jumat (1/2/2019).

Menurutnya letak geografis Kabupaten Demak yang berada di daerah aliran sungai, menjadikan wilayah ini berpotensi terhadap beberapa bencana terutama banjir.

Selain banjir, juga bencana tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, kebakaran dan rob.

“Seluruh wilayah di Demak berpotensi terhadap bencana tersebut. Kecuali tanah longsor, yang berpotensi terjadi di Kecamatan Mranggen dan Karangawen. Sedangkan untuk rob, sebenarnya belum bisa dikategorikan sebagai bencana,” bebernya.

Lebih lanjut Agus LP menambahkan, Kabupaten Demak sangat berpotensi banjir karena wilayahnya memiliki 14 sungai.

“Karena daerah hilir, aliran air dari dataran tinggi langsung ke Demak. Ditambah sedimentasi sungai cukup tinggi dan 54 tanggul dalam kondisi kritis,” ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Demak secara rutin melakukan normalisasi tanggul kritis dan pengerukan dasar sungai.

Juga mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai.

“Bersama beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kita terus mengedukasi masyarakat. Jangan buang sampah di sungai. Ini terus kita lakukan. Karena penanganan bencana tidak hanya tanggung jawab BPBD saja. Namun tanggung jawab bersama. Maka dibutuhkan komitmen bersama,” kata Agus.

Untuk itu, sambung Agus, BPBD Demak menghimbau kepada seluruh kepala desa yang ada di Demak untuk bisa menganggarkan program tangguh bencana dalam Dana Desa (DD).

“Saat ini Demak baru memiliki sekitar 25 tangguh bencana dan 4 posko bencana. Yakni posko Joko tingkir di Kecamatan Mijen, posko Kalijaga di Kecamatan karangawen, posko Angling Kusumo di Mranggen dan posko Glagah Wangi di Sayung. Idealnya setiap kecamatan memiliki satu posko bencana,” terangnya.

“Kita terus edukasi masyarakat untuk bisa menjadi mandiri dalam menghadapi bencana. Karena saat terpenting adalah sesaat setelah terjadi bencana”, pungkasnya.mj/60