Semarang – mediajateng.net

Lima hari sekolah bukan sebuah hari kiamat. Dalam pembentukan pendidikan karakter , pemerintah menyebut masih ada banyak jalan. Hal ini disampaikan oleh drs. Bambang Supriyono, Kepala Seksi Kurikulum SMK – SMA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dalam diskusi Primetopic, “Siap – Siap Lima Hari Sekolah” yang diselenggarakan Radio Sindo Trijaya, Senin ( 17/7) di Hotel Pandanaran.

Dalam pelaksanaan sekolah lima hari, pihaknya berasumsi anak akan bertemu teman lebih lama, sehingga memiliki kesempatan bertoleransi lebih banyak lagi, dan tingkat kerjasamanya pun menjadi lebih tinggi.Lima hari sekolah juga akan memberikan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga.

“Lima hari sekolah, butuh komitmen bersama, terutama saat ini masih banyak tenaga pendidik yang belum mampu berubah dan beradaptasi. Sehingga dalam perjalanannya, kami tidak bisa langsung memaksa.” tegasnya

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah mencatat sampai tahun 2017 ini, sudah ada sekitar 202 sekolah tingkat menengah atas , dan 152 sekolah tingkat kejuruan, serta 150 sekolah luar biasa yang telah menjalankan prosedur sekolah selama lima hari.

Sementara itu, pandangan berbeda ditegaskan kembali oleh Muh. Zen, dari Komisi E DPRD Jawa Tengah. Menurutnya, daripada pemerintah membuat kebijakan kontroversi menyangkut lima hari sekolah, lebih baik pemerintah memperbaiki pelayanan dasar pendidikan. Faktanya tingkat ketidakmampuan untuk bersekolah akibat faktor kemiskinan, masih sangatlah tinggi khususnya di wilayah pedesaan dan daerah terpencil.

Menutup polemik lima hari sekolah, Prof.dr.Suyahno, dosen dari Fakultas Ilmu Sosial Unnes Semarang, menyebut dalam menerapkan kebijakan sekolah, murid tidak hanya harus didorong secara intelektual saja.
“Kecenderungan mereka yang memiliki intelektual tinggi, lebih banyak menjadi bersikap egois.” tutupnya (MJ-202)