DEMAK, Mediajateng.net  – Pemerintah tak henti-hentinya mengajak nelayan di seluruh penjuru tanah air, untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan agar sumber daya ikan tetap lestari terutama hasil laut berupa rajungan.

“Agar rajungan tetap ada hingga anak cucu kita kelak, maka perlu dikelola dengan baik. Nelayan harus arif dan bijak, tidak menangkap rajungan di bawah ukuran minimum dan bertelur,” kata Sjarief Widjaja, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, seusai penyerahan bantuan alat penangkapan ikan (rajungan) ramah lingkungan berupa bubu lipat tipe kotak kepada nelayan Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Demak, kemarin.

Hadir dalam acara itu, Bupati Demak M Nasir dan Wakil Bupati Demak, Joko Sutanto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Lalu M Syafriadi dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak Hari Adi Soesio.

Sebanyak 1.800 unit bubu dibagikan kepada 18 nelayan dan KUB Jolo Sutro (100 unit per orang) Desa Betahwalang, Demak.

Bantuan kepada nelayan ini, merupakan komitmen pemerintah untuk menjadikan laut sebagai garda depan dan masa depan bangsa dengan meningkatkan kesejahteraan nelayan dan menjaga sumber daya ikan agar tetap lestari dan berkelanjutan.

“Rajungan itu komoditas utama Kabupaten Demak dan telah menembus pasar ekspor. Mari kita jadikan Desa Betahwalang sebagai Kampung Rajungan. Mangrovenya dijaga, jangan sampai ambil rajungan bertelur, segera dilepas,” ujarnya.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap ,
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, telah membuat peraturan tentang rencana pengelolaan rajungan melalui
Keputusan Menteri Perikanan Nomor
70/KEPMEN-KP/2016 tentang Rencana Keputusan Menteri Kelautan dan Pengelolaan Perikanan Rajungan di wilyah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Dalam keputusan tersebut, nelayan diminta untuk melakukan prinsip prinsip pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem Ecosystem Approach to Fisheries management (EAFM).

Pendekatan ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan tujuan sosial ekonomi dalam pengelolaan perikanan (kesejahteraan nelayan, keadilan pemanfaatan sumber daya ikan, dan lain-lain) dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan dan ketidakpastian tentang komponen biotik, abiotik, manusia, dan interaksinya dalam ekosistem perairan melalui sebuah pengelolaan perikanan yang terpadu, konprehensif dan berkelanjutan.

“Ranjungan merupakan salah satu komoditi perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, karena komiditi ini sangat diminati oleh masyarakat, baik dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

55 KOMENTAR

Comments are closed.